Selasa, 02 September 2025

Kalau Al-Mawardi Hidup di Era Demokrasi, Apa yang Akan Ia Katakan tentang Politisi Kita?

 Bayangkan sejenak: seorang ulama abad ke-10, Al-Mawardi, tiba-tiba bangkit dan duduk di depan televisi sambil menonton debat calon pemimpin masa kini. Apa kira-kira reaksinya? Tersenyum bijak? Geleng-geleng kepala? Atau malah menulis kitab baru berjudul Al-Ahkam al-Sultaniyyah 2.0?

Nama Al-Mawardi mungkin terdengar klasik, tapi pemikiran politiknya terasa sangat modern. Dalam karyanya yang terkenal, Al-Ahkam al-Sultaniyyah, ia membahas bagaimana sebuah negara seharusnya dijalankan: pemimpin yang adil, rakyat yang terlindungi, dan aturan yang ditegakkan dengan konsisten. Kalau kita tarik ke konteks demokrasi hari ini, gagasannya jadi seperti cermin besar yang memantulkan wajah politik kita.


Pemimpin Itu Amanah, Bukan Jabatan untuk Gaya-Gayaan

Al-Mawardi menekankan bahwa seorang pemimpin adalah amanah, bukan sekadar status atau panggung popularitas. Ia harus dipilih karena kapasitasnya, bukan karena ketenarannya. Kalau beliau hidup sekarang, mungkin ia akan bertanya, “Kenapa kalian lebih sibuk memilih pemimpin seperti memilih idola, bukan seperti memilih pengelola amanah?”

Di tengah politik yang sering jadi ajang pencitraan, Al-Mawardi pasti mengingatkan: pemimpin bukanlah “raja kecil” yang bebas berbuat sesuka hati, tapi pelayan rakyat.


Politik = Kontrak Sosial

Salah satu gagasan menarik dari Al-Mawardi adalah bahwa antara pemimpin dan rakyat ada kontrak sosial. Rakyat punya kewajiban taat, tapi pemimpin juga punya kewajiban menunaikan hak rakyat. Kalau salah satunya melanggar kontrak ini, negara bisa goyah.

Coba bayangkan beliau melihat kondisi sekarang: janji-janji kampanye yang hilang entah ke mana, atau kebijakan yang lebih berpihak pada elite daripada rakyat. Mungkin Al-Mawardi akan menulis status pedas di Twitter:

“Kontrak sosial bukan hanya saat kampanye, wahai para pemimpin. Itu berlaku sepanjang kalian menjabat.”


Siyasah: Bukan Sekadar Kursi Kekuasaan

Al-Mawardi bicara soal siyasah—seni mengelola pemerintahan. Baginya, negara kuat bukan karena banyaknya pasukan atau tebalnya kas negara saja, tapi karena keadilan ditegakkan dan institusi berfungsi dengan baik.

Kalau melihat praktik politik kita sekarang, yang kadang penuh drama dan perebutan kursi, mungkin beliau akan tersenyum miris. “Kalian sibuk berdebat siapa duduk di kursi, tapi lupa bahwa kursi itu dibuat untuk melayani rakyat, bukan diri sendiri.”


Kalau Beliau Hidup di Era Demokrasi…

Mari kita jujur: politik modern sering kali bikin rakyat lelah, kecewa, bahkan sinis. Tapi kalau Al-Mawardi hadir di tengah kita, mungkin ia justru memberi pengingat sederhana:

  • Pemimpin sejati adalah yang adil dan amanah.
  • Politik adalah sarana untuk melayani rakyat, bukan jalan pintas menuju kekayaan atau kekuasaan.
  • Negara akan runtuh jika kontrak sosial antara pemimpin dan rakyat diabaikan.

Penutup

Jadi, kalau Al-Mawardi benar-benar hidup di era demokrasi, apa yang akan ia katakan tentang politisi kita? Mungkin sesuatu seperti ini:

“Kalian sudah punya sistem yang memungkinkan suara rakyat didengar. Tapi ingat, demokrasi tanpa amanah dan keadilan hanyalah panggung sandiwara. Jangan ulangi kesalahan peradaban-peradaban yang pernah runtuh karena penguasa mengkhianati rakyatnya.”

Dan kalimat itu, rasanya, lebih menohok daripada ribuan cuitan politikus di timeline kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lagi kesempatan bergaya